Langsung ke konten utama

Umat Islam Ambil Sikap, Korporasi Global gagap


Oleh: Murdiati, S.P (Aktivis Dakwah)

Awal tahun 2021 dunia digemparkan oleh aplikasi pesan singkat yang telah ramai digunakan berbagai kalangan di seluruh dunia, whatsapp. Sebelumnya aplikasi whatsaapp merencanakan untuk mengharuskan penggunanya berbagi data ke platform Facebook mulai 8 Februari. Namun, rencana tersebut ditunda karena cemas penggunanya eksodus pindah menggunakan aplikasi pesan singkat lainnya jika kebijakan itu diberlakukan.

Akhirnya pihak whatsapp memutuskan untuk meminta pendapat dari berbagai pihak secara bertahap terlebih dahulu. Hingga saat ini belum ada kepastian kapan kebijakan tersebut dilaksanakan (CNN.indonesia, 16//1/21).

Mark Zuckberg mengatakan mereka tidak akan lagi merekomendasikan konten kelompok sipil dan politik kepada pengguna platform tersebut. Akhirnya Zuckerberg mengatakan facebook sedang mempertimbangkan langkah-langkah mengurangi jumlah konten politik di feed berita pengguna (internasional.kontan.co.id. 28/1/21).

Berkaca dari kejadian ini terlihat betapa besarnya pengaruh umat Islam bagi para  kapitalis, sebab tidak dipungkiri bahwa jumlah terbesar penduduk dunia adalah umat Islam yang kini telah mengalahkan jumlah umat kristen. Bahkan menurut hasil penelitian 2017 populasi umat muslim akan bertambah 70% (Republika, 3/12/19).

Tidak heran ketika umat muslim sebelumnya memboikot produk Prancis karena sindiran immanuel Macron terhadap umat Islam dalam pidatonya memunculkan kecemasan bagi pemerintah Prancis. Terlebih sebelumya pada tahun 2006 silam terjadi kemarahan besar kaum muslim di Denmark akibat karikatur Nabi Muhammad SAW. mengundang aksi boikot besar-besaran di negeri-negeri kaum muslim hingga Denmark harus menanggung kerugian yang tidak kecil (CNBC Indonesia, 27/10/21).

Terlihat, sehebat apapaun korporasi kapitalis global jika penduduk dunia ini khususnya kaum muslim berani mengambil sikap untuk meninggalkan atau memboikot negeri-negeri Barat, maka kekuatan dan keangkuhan para kapitalis dapat diciutkan.  Terlebih jika kaum muslim benar-benar bersatu dalam membentuk satu kekuatan global yang disatukan dalam naungan khilafah.

Negeri-negeri kaum muslim telah dikaruniai SDA dan SDM yang besar, maka semua itu berpotensi untuk tidak ketergantungan dengan teknologi Barat dan mandiri. Namun tanpa kekuatan politik semua itu tidak akan berpengaruh besar, sebab menurut dosen UNY dan Staf Ahli Menristek, Agus Puji Mulyono, teknologi sangat berkaitan dengan sistem poltik sebuah negara. Dalam artikelnya dibahas bahwa tanpa political will dari pemerintah kemandirian teknologi hanya sekedar mimpi sebagaimana dikutip dari MuslimahNews.com (6/2/21).

Sayangnya, dalam teknologi saat ini kaum muslim masih terjajah oleh sistem politik demokrasi kapitalisme. Untuk mengembalikan kejayaan Islam agar terbentuk kekuatan Islam setidaknya ada tiga kunci sebagaimana yang dipaparkan oleh Rindyanti Septiana (6/2/21). Pertama, kesadaran setiap individu kaum muslim untuk berperan dalam mewujudkan cita-cita besar umat sebagai umat terbaik semata-mata karena aqidah islam yang mereka miliki, termasuk dalam mewujudkan janji Allah dan bisyarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kedua, kesadaran kolektif berupa kultur atau budaya yang tumbuh di tengah masyarakat sebagai pembelajar, mencintai ilmu dan saling mengingatkan jika ada yang lemah atau lalai. Termasuk juga hidupnya aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, penguasa dengan senang hati menerima kritik dan rakyat tidak takut mengkritik.

Ketiga, sistem pemerintahan yang tidak sekedar menoleransi kemajuan, tapi juga mendorong kemajuan, bukan sibuk dengan pencitraan sebagaimana dalam demokrasi. Ekonomi yang bebas dari sistem kapitalisme, sehingga setiap penemuan tidak didominasi nilai komersial tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan manusia pada Allah Azza wa jalla. Melalui tiga kunci tersebutlah kejayaan Islam sebagai negara yang kuat dapat terwujud.

Will Durant dalam Story of Civilization IV: The Age of Faith mengatakan, kimia sebagai ilmu yang hampir diciptakan kaum muslim. Karena dibidang ini, dimana orang Yunani (sejauh yang kita tahu) terbatas pengalaman industri dan hipotesis yang tidak jelas, orang Saracen memperkenalkan pengamatan yang tepat, eksperimen terkontrol dan catatan yang cermat. Mereka menemukan dan menamai alembic (al-anbiq). Secara kimiawi menganalisa zat-zat yang tak terhitung banyaknya, menyusun informasi singkat, membedakan alkali dan asam, menyelidiki kesamaan mereka, mempelajari dan memproduksi ratusan obat. Alkimia, yang diwarisi  muslim melalui Mesir, bekontribusi pada kimia melalui ribuan penemuan tak terduga, dengan metodenya yang merupakan operasi paling ilmiah dari semua operasi abad pertengahan”

Itu baru satu kekaguman Barat pada kehebatan teknologi kaum muslim di masa kejayaannya. Jika kaum muslim mau bangkit, mudah saja bagi mareka untuk meruntuhkan dan mengalahkan teknologi Barat, bahkan mampu menciptakan yang lebih canggih selama kaum muslim mau bersatu dan mencampakkan sistem kapitalisme dan beralih pada sistem Islam, yakni Khilafah.

Komentar